Salam sejahtera semua...
Pertama, tulisan ini cuma sekedar pencurahan pikiran yang sesaat mencuat dari hasil ngobrol2 santai sesama teman2 sepenongkrongan.. hehehe... Jadi gak ada maksud untuk menghasut apa lagi menyindir orang2 atau lembaga2 tertentu. Kedua, kalaupun ada yang merasa tersindir atau tersinggung, ya saya mohon maaf, karena sekali lagi ini hanya pencuatan ide2 yang terlintas di pikiran aja... Maaf yaaa.... gak maksud kok... hehehehe... Ketiga, karena saya juga baru terbuka pikiran untuk hal2 ini maka jika berkenan, bolehlah memberikan masukan2 apa aja kok... saya dengan senang hati akan menerima dan menampungnya ...hihihi... udah kayak anggota dewan aja ya....
Oke deh, meski mungkin tulisannya mbosenin dan banyak ngaconya, jangan dimarahin ya... hahahaha.....
Berawal dari kebiasaan ngopi yang gak bisa ilang sejak berkuliah di Bandung, kalo gak ngopi tuh jadi migren..., jadilah saya sering duduk2 di 'warung kopi'bersama beberapa rekan yang ternyata juga doyan ngopi dan juga mencari tempat yang cukup nyaman untuk melampiaskan kebutuhan merokok kami yang makin ke sini makin susah dapat ruang untuk melakukannya... hehehehe.... Awalnya obrolan2 hanya enteng2 aja berkisar masing2 lah. Saling ledek, tertawa, tuker2an no. hp, ngomongin perempuan (hehehe... susah emang kalo laki ngumpul, gak jauh....), lama2 makin luas ampe ngomongin negara...
Soal inilah yang membuat saya menjadi terbuka pikiran dan bertanya2 sehingga memunculkan tulisan ini.
Seperti kita tau lah, sekarang kan lagi ngetrend tuh masalah KRISIS GLOBAL dimana2, selain masalah perang timur tengah (Israel - Palestina) yang emang dari jaman kuda naek onta ampe kuda udah bisa ke bulan sekarang belum juga beres2, kami saling bertukar pendapat tentang akibat2 yang ditimbulkan dan langkah2 yang bisa diambil untuk pencegahan (tapi ini cuma obrolan orang yang awam lhoo... bukan pakar2... hehehe..)
Akibat dan gimana ngindarinnya itulah yang jadi pokok pemikiran saya untuk menulis ini dengan harapan banyak masukan2 yang dapat membuat kita makin terbuka pikirannya..
Akibat2 dari krisis global seperti kita tau adalah pengangguran dan kemiskinan yang akan semakin meluas karena banyaknya usaha2 yang gulung tikar dan pemutusan hubungan kerja secara besar2an. Banyak usaha2 di segala level yang menggantungkan diri pada pemodal2 besar yang ternyata juga menggantungkan diri pada pemodal2 yang lebih besar lagi, menjadi gigit jari dan terpaksa gulung tikar karena sulitnya mencari barang dan pasar yang memadai serta langkanya kebutuhan2 pokok yang mendukung usaha mereka. Hasilnya mereka mau gak mau harus menyelamatkan usaha mereka masing2 tanpa harus mempedulikan kepentingan yang lain terutama pekerja2nya dan konsumen2nya.
Dari situ muncullah KOPERASI yang udah lama kita gak pernah denger lagi, sebagai satu solusi yang menurut kami cukup pantas buat negara ini.
Kenapa?
Pertama, dari awal mula terbentuknya bangsa ini Koperasi sudah ada. Bahwa bangsa ini Merdeka bukan semata karena perjuangan golongan tertentu saja, tapi kerjasama seluruh rakyat Indonesia untuk mencapai tujuan bersama yang mulia.
Kedua, kita punya pengalaman yang kaya dalam ber-koperasi. Baik itu yang menyenangkan juga pengalaman yang menyakitkan, yang semuanya dapat dijadikan pegangan untuk membangun.
Ketiga, negara ini KAYA... Baik sumber daya maupun tenaga kerja. Koperasi tidak butuh orang2 berpendidikan setinggi langit. Selama ia berkomitmen dan mau bekerjasama dengan baik, beres lah...
Pasti ada keempat, kelima, keenam, dan kesekian lah yang saya gak tau. Tapi dari tiga itu di atas saya rasa sudah menjadi modal yang cukup lah untuk mengembangkan koperasi.
Tapi kenapa sampai hari ini jarang sekali ada koperasi yang saya dengar, yang berkembang dengan baik. Hampir semua berkendala dengan aturan2 yang gak jelas dan terjegal oleh pengusaha2 kita yang mengutamakan konglomerasi untuk memperkaya diri sendiri daripada berkerjasama untuk mensejahterakan rakyat?? Pemerintah, apa gak terpikir untuk mengarah kesana??
Menurut kami yang jadi masalah buat bangsa kita sebetulnya bukan pemerintahan yang baik, bukan ketidakadaan sumber2 alam, bukan juga keboborokan moral. Meskipun itu semua menjadi masalah... hehehe... tapi yang paling mendasar dari semua itu adalah UANG.
kenapa orang mau jadi pegawai negeri? UANG
kenapa orang perlu saling jegal dan tusuk2an di kerjaan? UANG
kenapa preman dipasar malakin para pedagang? UANG
kenapa supir ojek berantem ama tukang becak ampe bunuh2an? UANG
kenapa para buruh, mahasiswa, guru, dan lain-lain melakukan demo ? UANG
kenapa barang2 makin mahal dan rakyat dibilang makin miskin ? UANG
kenapa orang mau bayar mahal untuk jadi anggota dewan baik di pusat atau di daerah ? UANG
semua UJUNG UJUNGNYA UANG.. !!!
Coba bayangin...
Andai di setiap kelurahan atau kompleks lah, ada 1 koperasi, apapun bentuknya, dan tiap anggotanya tiap minggu mengumpulkan 1000 perak, berapa dana yang terkumpul se Indonesia dalam se tahun ?? Dan itu semua hanya untuk kepentingan anggota2 koperasi itu sendiri, bukan orang lain. Dengan dana segitu, berapa banyak perusahaan yang tertolong dan orang2 yang dapet kerja??? Kenapa hal yang begini gak dikembangin ? kenapa malah justru mengharap suntikan dana dari orang lain yang pastinya punya kepentingan2 sendiri yang belum tentu sejalan dengan kepentingan kita. Sementara dalam Koperasi, semua hasil usaha sendiri yang dapat dinikmati sendiri, yang bahkan kalau berhasil bisa dinikmati oleh bangsa lain.
Kenapa hal demikian justru disingkirkan ? melibatkan rakyat untuk kepentingannya sendiri sehingga pemerintah gak perlu terlalu sulit mengatur. Hal yang memudahkan bernegara ini kenapa justra gak jalan? Masalah2 yang timbul adalah wajar menurut kami, dalam proses pembelajaran menjadi lebih baik, selama hal tersebut tidak dibiarkan berkembang. Bukan begitu??
Dalam segala bentuk usaha, gak ada yang begitu berdiri langsung sukses dan untung besar. Semua juga mulai dari kegagalan2 dan kesalahan2 yang nantinya diperbaiki sehingga apa yang dicita2kan bersama dapat terwujud. Gak bisa instan.
Dan kalau kita gak segera mulai gimana masalah2 dan kesalahan2 bisa diperbaiki??
Saya emang gak pengalaman dengan koperasi, tapi membayangkan keuntungan yang bisa diperoleh, baik secara materi atau bukan, saya berpikir bahwa Koperasi bukan ide yang buruk untuk dijalankan.
Misalnya nih saya anggota koperasi, membutuhkan modal untuk usaha, saya pinjem koperasi. Yang notabene sebenarnya uang saya sendiri, plus beberapa anggota lainnya yang juga menjadi anggota. setelah usaha saya jalan, saya mengembalikan pinjeman ke koperasi + bunganya yang nantinya juga akan dikembalikan ke saya sebagai keuntungan koperasi. Selain membantu diri saya sendiri, juga membantu sesama anggota. Dengan terbukanya usaha, berarti menciptakan lapangan kerja, yang notabene mengurangi pengangguran. Cari dana gak sulit, balikinnya juga gak dipersulit, karena kita sendiri yang mengatur aturan2nya, disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan kita. Dana ada, usaha jalan, orang2 dapet kerja... Baik bukan ??? tapi kenapa gak jalan ???
Kalo pemerintah berani dan rakyat juga mendukung, sistem konglomerasi sperti sekarang ini yang hanya menguntungkan para pengusaha kaya, dapat diurai ke bawah sampai ke pelosok2 Indonesia...
Butuh keberanian pemerintah dan rakyat untuk memulai. Tapi kalau gak mulai kapan kita tau kalau itu salah???
Sebagia penutup saya kutip sedikit kata2 dari Tan Malaka dari bukunya GERPOLEK (Gerilya Politik Ekonomi) yang saya baru selesai baca.. hihihihi... begini katanya :
"....Cuma manusia goblog yang tiada mengerti akan kesempatan yang bagus itu dan cuma manusia pengecut atau curang yang tiada ingin melakukan pekerjaan yang berat, tetapi bermanfaat buat masyarakat sekarang dan dihari kemudian itu..."
Udah abis nih isi otak saya...
Kalo ada teman2 yang punya ide2 atau pandangan2 berbeda makasih kalau mau berbagi sedikit dengan saya...
Terimakasih dan mohon maaf kalo isinya banyak ngaco dan gak keruan sehingga menyinggung perasaan.
Salam sejahtera...
Jakarta, 10 Januari 2009
Alfonsus M Verdi a.k.a. Tomat a.k.a ijum
Sabtu, 10 Januari 2009
Jumat, 09 Januari 2009
Pelajaran Pasang Pipa
Karna ada yang protes, katanya tulisan gw kelewat serius/berat, so, gw cerita aja deh yang enteng2 tapi nyata..
Ini terjadi di hari minggu pertama abis lebaran (maap lair batin ye semwa...) Waktu itu gw nginep di rumah eyang gw (ta elah... kayak anak SD libur ye, ke rumah nenek.. hihihi...), ternyata sang eyang sedang membangun jaringan pipa untuk konsumsi air di rumah nya, yang ternyata juga udah berlangsung selama sebulan lebih tanpa ada penyelesaian. Maka sang menantu, Eko, dan si bungsu, Mr. Tedjo, berinisiatif untuk melakukan instalasi sampai tuntas alias sampai air bisa mengalir dari torrent (bener ya nulisnya?? yang tempat nyimpen air itu lho... bener kan???) ampe ke kran2 yang ada. Karna diantara kami belum ada yang punya pengalaman masang pipa, maka terjadilah hal2 yang diinginkan.. hehehe...
Gak tau gimana awalnya ide itu muncul, tau2 Bung Eko menantang untuk melakukan instalasi, yang langsung disambut dengan penuh semangat oleh Mr. Tedjo dan karna gw cucu yang baik, maka gw pun ikut bersemangat tanda setuju. Itung2 belajar kan, sapa tau besok2 aer di rumah gw mampet atawa bocor kan?! bisa tuh!!!
Berbekal peta instalasi yang telah dirancang dan dipersiapkan kebutuhan2nya berupa pipa, kran, lem pipa, isolasi pipa, sok, T, plosok (gitu ya?? namanya.. bener kan?? gw gak ngerti nulisnya cuma tau nyebutnya...maaf ya yang pakar masang pipa...), juga alat2, maka mulailah kami bekerja dibawah pengawasan para mandor yang bolak-balik (eyang laki dan perempuan serta tante2 gw yang cantik2 hihihi...) memberi petunjuk, makanan, minuman dan celaan, serta gangguan dari sepupu2 gw yang jumlahnya 5 orang. Tadinya mereka mau diajak juga, tapi berhubung ada masalah dengan usia (yang paling besar perempuan SMP, yang paling kecil baru bisa narik2 dan mbuang semua benda yang menarik yang ada di depannya), maka jadilah mereka penonton yang heboh sendiri.
Karna gw merasa paling gak tau soal pasang memasang pipa, jadilah gw mengamati dulu kegiatan rekan2 kerja gw. Seperti awal pekerjaan2 lain, kami juga memulainya dengan bingung dari mana harus dimulai. Setelah sekitar 1 jam terbuang untuk berdebat, akhirnya diputuskan untuk menyambung pipa dari torrent lebih dulu, karena berada diatas, sehingga nantinya gak perlu lagi mondar mandir ke atas untuk instalasi. Dan Mulai lah kami bekerja...
Setelah mengukur dan memilih pipa2 yang harus dipasang beserta sambungan2nya, mulailah kami menyambung pipa2 tersebut. Disinilah terjadinya kesalahan yang membuat semua kerja kami seolah sia-sia. gak jelas siapa yang mengomando pada awalnya, pada awal penyambungan pipa kami memulainya dengan mengamplas ujung2 yang akan disambung. Tapi ternyata akhirnya kami tau bahwa hal itu (mengamplas ujung pipa untuk dilem) ternyata salah total!!!! (argumennya, biasanyakan kalo mo ngelem2 gitu, bagian2 yang mau di lem dibersihin dulu kan!? kalo perlu dibuat agak kasar, biar lemnya bisa nyerep ke sela2nya, jadi tambah lengket.. kira2 gitu kan??? inget nambel ban sepeda? ternyata gak berlaku buat pipa !!). Dan bencinya, hal kayak begini baru ketauan setelah semua selesai terinstalasi dengan lumayan rapi (daaaammmmnnn....). Pada saat menyalakan pompa untuk mengalirkan air, air gak mau keluar... (sialaaannnnn...!!! padahal waktu itu udah jam tengah malem lah kira2.. bete deh...) Dipancing2 ampe bego, tetep... tu air masih aja betah di bawah.
Karna Senin nya semua harus kerja (secara itu hari pertama masuk setelah lebaran, jadi gak boleh bolos kan!?) maka kami sepakat untuk melanjutkan besok sepulang kerja, yang pastinya gw gak bisa ikut karna gw gak bisa kesitu lagi selaen hari Sabtu dan Minggu (hihi.. artinya gw bisa puas tidur...!! hehehe...). Dari kabar yang masuk di SMS Telkomsel gw, ternyata hari itu pun sang air masih seneng bercumbu dengan pasir dan batu di bawah sana. Akhirnya sang mandor pun terpaksa memanggil pakar instalasi pipa, yang ternyata mantan tukang becak yang jadi tukang ojek (bener ya Mr. Tedjo??). Dari congornya kami dapati 2 kesalahan fatal yang bikin air ogah naik. Pertama, ya itu tadi, harusnya tuh pipa gak boleh diampelas, yang bikin udara masuk dan air nyemprot2 dari situ. Kedua, ini yang gak disengaja, dan kami gak tau, ternyata ada potongan pipa yang jatuh/masuk ke pipa yang ke bawah tanah sehingga mengganjal semacam klep yang ngatur keluar masuk air (wahhh... malu deh... tapi lega karna sang air akhirnya bersedia main ama sabun dan teman2 barunya yang lain.. hihihi...)...
Nambah lagi deh pengalaman... Buat Bung Eko dan Mr. Tedjo, kayaknya kita harus belajar juga cara nggali/nanem pipa ke bawah nih... Abis itu, kita mungkin bisa bikin bisnis instalasi air... hehehe... Salam kompak selalu... (Taaaeeeeeeeeee.........!!!!!!!)
Ini terjadi di hari minggu pertama abis lebaran (maap lair batin ye semwa...) Waktu itu gw nginep di rumah eyang gw (ta elah... kayak anak SD libur ye, ke rumah nenek.. hihihi...), ternyata sang eyang sedang membangun jaringan pipa untuk konsumsi air di rumah nya, yang ternyata juga udah berlangsung selama sebulan lebih tanpa ada penyelesaian. Maka sang menantu, Eko, dan si bungsu, Mr. Tedjo, berinisiatif untuk melakukan instalasi sampai tuntas alias sampai air bisa mengalir dari torrent (bener ya nulisnya?? yang tempat nyimpen air itu lho... bener kan???) ampe ke kran2 yang ada. Karna diantara kami belum ada yang punya pengalaman masang pipa, maka terjadilah hal2 yang diinginkan.. hehehe...
Gak tau gimana awalnya ide itu muncul, tau2 Bung Eko menantang untuk melakukan instalasi, yang langsung disambut dengan penuh semangat oleh Mr. Tedjo dan karna gw cucu yang baik, maka gw pun ikut bersemangat tanda setuju. Itung2 belajar kan, sapa tau besok2 aer di rumah gw mampet atawa bocor kan?! bisa tuh!!!
Berbekal peta instalasi yang telah dirancang dan dipersiapkan kebutuhan2nya berupa pipa, kran, lem pipa, isolasi pipa, sok, T, plosok (gitu ya?? namanya.. bener kan?? gw gak ngerti nulisnya cuma tau nyebutnya...maaf ya yang pakar masang pipa...), juga alat2, maka mulailah kami bekerja dibawah pengawasan para mandor yang bolak-balik (eyang laki dan perempuan serta tante2 gw yang cantik2 hihihi...) memberi petunjuk, makanan, minuman dan celaan, serta gangguan dari sepupu2 gw yang jumlahnya 5 orang. Tadinya mereka mau diajak juga, tapi berhubung ada masalah dengan usia (yang paling besar perempuan SMP, yang paling kecil baru bisa narik2 dan mbuang semua benda yang menarik yang ada di depannya), maka jadilah mereka penonton yang heboh sendiri.
Karna gw merasa paling gak tau soal pasang memasang pipa, jadilah gw mengamati dulu kegiatan rekan2 kerja gw. Seperti awal pekerjaan2 lain, kami juga memulainya dengan bingung dari mana harus dimulai. Setelah sekitar 1 jam terbuang untuk berdebat, akhirnya diputuskan untuk menyambung pipa dari torrent lebih dulu, karena berada diatas, sehingga nantinya gak perlu lagi mondar mandir ke atas untuk instalasi. Dan Mulai lah kami bekerja...
Setelah mengukur dan memilih pipa2 yang harus dipasang beserta sambungan2nya, mulailah kami menyambung pipa2 tersebut. Disinilah terjadinya kesalahan yang membuat semua kerja kami seolah sia-sia. gak jelas siapa yang mengomando pada awalnya, pada awal penyambungan pipa kami memulainya dengan mengamplas ujung2 yang akan disambung. Tapi ternyata akhirnya kami tau bahwa hal itu (mengamplas ujung pipa untuk dilem) ternyata salah total!!!! (argumennya, biasanyakan kalo mo ngelem2 gitu, bagian2 yang mau di lem dibersihin dulu kan!? kalo perlu dibuat agak kasar, biar lemnya bisa nyerep ke sela2nya, jadi tambah lengket.. kira2 gitu kan??? inget nambel ban sepeda? ternyata gak berlaku buat pipa !!). Dan bencinya, hal kayak begini baru ketauan setelah semua selesai terinstalasi dengan lumayan rapi (daaaammmmnnn....). Pada saat menyalakan pompa untuk mengalirkan air, air gak mau keluar... (sialaaannnnn...!!! padahal waktu itu udah jam tengah malem lah kira2.. bete deh...) Dipancing2 ampe bego, tetep... tu air masih aja betah di bawah.
Karna Senin nya semua harus kerja (secara itu hari pertama masuk setelah lebaran, jadi gak boleh bolos kan!?) maka kami sepakat untuk melanjutkan besok sepulang kerja, yang pastinya gw gak bisa ikut karna gw gak bisa kesitu lagi selaen hari Sabtu dan Minggu (hihi.. artinya gw bisa puas tidur...!! hehehe...). Dari kabar yang masuk di SMS Telkomsel gw, ternyata hari itu pun sang air masih seneng bercumbu dengan pasir dan batu di bawah sana. Akhirnya sang mandor pun terpaksa memanggil pakar instalasi pipa, yang ternyata mantan tukang becak yang jadi tukang ojek (bener ya Mr. Tedjo??). Dari congornya kami dapati 2 kesalahan fatal yang bikin air ogah naik. Pertama, ya itu tadi, harusnya tuh pipa gak boleh diampelas, yang bikin udara masuk dan air nyemprot2 dari situ. Kedua, ini yang gak disengaja, dan kami gak tau, ternyata ada potongan pipa yang jatuh/masuk ke pipa yang ke bawah tanah sehingga mengganjal semacam klep yang ngatur keluar masuk air (wahhh... malu deh... tapi lega karna sang air akhirnya bersedia main ama sabun dan teman2 barunya yang lain.. hihihi...)...
Nambah lagi deh pengalaman... Buat Bung Eko dan Mr. Tedjo, kayaknya kita harus belajar juga cara nggali/nanem pipa ke bawah nih... Abis itu, kita mungkin bisa bikin bisnis instalasi air... hehehe... Salam kompak selalu... (Taaaeeeeeeeeee.........!!!!!!!)
Langganan:
Postingan (Atom)